Saat-Saat Terindah Seorang Musafir yang Hanya Staf Biasa
29 April 2007
Tasbih Hujan, dihari Jum’at
Di masjid, saat jum’at, ada sepohon kayu bermunajad
Hujan mengiringi tasbihnya dengan zikir yang terucap cepat
Di samping pintu menghadap kiblat
Sepungguk rindu memohon kepadaMu
Carikanlah seseorang untuknya, yang lucu
Lucu disini, bukan lucu haha hihi
Tapi lucu yang tidak menyesali apalagi menangisi
Ketika banyak Kau beri
Cobaan yang mesti kami pecahi
Hujanpun tidak bisa memaksanya berhenti bermunajad
Ia akan begitu selamanya , jika itu perlu
hanya untuk menunggu, teman hidup yang lucu.
11 March 2007
Malam Ini
Malam ini, melingkar siluet jingga
di bundarmu purnama
toh! gerhana yang telat terlewat
beberapa hari yang lalu
masih menyisakan indahnya misteri alam
malam kian dingin, tanpa suara jangkrik
apalagi kerlip kunang-kunang
yang dulu penuh keriangan
tatkala mereka hadir di rimbunnya pepohonan
kadang berhasil pula kami tangkap
kami tingkap di sumpeknya plastik
kelak, kami pikir dapat pula menjadi lentera
ketika banyak cahaya telah sirna
malam ini, hanya purnamamu yang tersisa
tak ada lagi keriuhan jangkrik
apalagi kerlip kunang yang katanya
dari pemilik kuku penghuni kuburan
ah! menakutkan tapi juga menghangatkan kenangan
ketika usia kita dibawah belasan
Labels: Puisi
Kutulis Secarik Pertanyaan
tapi pada siapa?
pada gadis bertudung senda
yang sering kulihat lewat jendela?
tapi, dia tidak pernah menyapa!
aku perlu jatuh cinta!
tapi pada siapa?
pada wanita peminta pulsa
yang betah mengirimi sms suka?
tapi, jelas dia berpura karena ada maunya!
aku perlu jatuh cinta!
tapi pada siapa?
Tak perlu mencari teman secantik Bilqis,
jika diri tak seindah Sulaiman
Mengapa mengharap teman setampan Yusuf,
jika diri tak setulus Zulaikha
Tak perlu mencari yang setuguh Ibrahim,
jika diri tak sekuat Hajar dan Sarah
Mengapa didamba teman hidup seistimewa Khadijah,
jika diri tak sesempurna Rasulullah
(dapatnya dari teman yang berada jauh nun di Malaysia)
Labels: Puisi
27 February 2007
Water Falling In Drops
tiap kali hujan membasuh bumi
getar yang memompa darah, lebih!
memacu detak jantung
menjadi resah dan gelisah
yang menjarah di daging
Wangi petrichor*
bagai terapi yang memabukkan
lalu bagai terserang Alzheimer
darahpun luruh
*minyak yang diproduksi oleh tumbuhan, kemudian diserap oleh bebatuan dan tanah, dan kemudian dilepas ke udara pada saat hujan.
Labels: Puisi
12 February 2007
Kulukis Bunda
I love you so much… mom
kulukis bunda pada seraut senja
wajahnya renta
kadang bunda terluka, karena kata
pernah dia menangis,
sungguh teriris hati ini
bunda menyembuhkan luka
sebelum aku menyadari
aku tahu bunda
hatimu sebening kaca ratu Cinderella
jiwamu sehalus permainan kecapi Maya
dirimu secantik permaisuri malaikat di surga
lisanmu semetafora langit kala senja
bunda selalu bangga
anaknya adalah yang terbaik dari segala
aku juga tahu…
aku tak akan pernah merasa cukup (ahh…)
untuk membalas cintamu bunda
Because there are more important thing in this world than what I want or what I love…
Labels: Puisi
09 February 2007
Cinta yang Sederhana
seonggok nyawa yang belum berkafan
serintik tangis, itupun kadang
tak banyak yang kurindu dalam hidup
bulan, matahari, bintang-bintang
cukuplah itu dalam kenangan
tak banyak yang kueja dari hidup
hati yang selalu tidak sama dengan ucapan
selebihnya? kematian yang dekat menghujam
tak banyak yang akan kulakukan
memberimu cinta yang sederhana
memberi cinta yang tidak sama
kemudian…
tak banyak yang kusisakan untukmu
kata yang tidak selalu ada
mata yang tak sanggup memandang
eh! cintaku memang sederhana
mungkin aurumku lari terbirit
atau mati sempit sendiri
Labels: Puisi
20 January 2007
Ketika Sepi Datang Tiba-Tiba...
hanya lewat lagu aku merindu
hanya lewat buku aku berpangku
lalu, tiba-tiba kuteringat Tuhan
hanya lewat firman aku terteman
Labels: Puisi
Pagi Yang Tak Tercatat
terlambat memberi makan anaknya
tersebab ia sungguh lelah semalaman
menunggui sakit buah hatinya yang tak jua reda
Awan masih menyisakan rintik
paling tidak untuk satu dua hari lagi
tapi, anaknya perlu banyak makan dan istirahat
kalau tidak, ia mungkin sulit bertahan hingga pagi
Dan, aku masih disini
menulis sederet pertanyaan
lalu kubiarkan berlama-lama menjuntai
kau kira mudah menunggu jawaban?
Labels: Puisi
Bila Aku Boleh Memilih
bila aku boleh memilih
menjadi sempurna atau biasa,
menjadi matahari atau sebatang lilin saja
aku memilih biasa dan sebatang lilin saja
karena dengan begitu kita selalu dapat belajar
sekadar untuk mengatakan bi wa kizu
karena dengan begitu kita dapat selalu ada
ketika semua cahaya telah sirna
Sayang,
bila aku boleh memilih
mencintaimu dengan obralan kata
atau aku mengatakan sepatah kata saja
aku memilih sepatah kata
bahwa aku mencintaimu
karena au memang mencintaimu
tak tahu mengapa dan ketika matamu terpejam
aku pun jatuh tertidur
Begitu banyak keinginan didalam hidup ini sayang…
aku ingin menjadi hujan
agar bisa kau rindukan
saat kemarau masih panjang
aku ingin menjadi karang
agar bisa kau hempaskan
ketika dirimu tak mampu tertahan
Perjalanan masih panjang sayang…
kau boleh memilih dan harus memilih
karena hidup ini pilihan sayang
memilih untuk bahagia atau menderita
memilih untuk tertawa atau kita menangis bersama
Sayang,
bila aku boleh memilih
dirimu atau seisi dunia
aku memilih dirimu
karena dengan begitu, paling tidak aku bisa
ikut denganmu antri didepan pintu surga.
Sayang kau begitu dekat
tapi mengapa kau tak jua terlihat
Labels: Puisi
03 January 2007
Akhir selalu merupakan awal
kembali mengawali
akankah kembali diisi
dengan kesia-siaan
atau kau penuhi dengan cinta
yang seperti emas...
tidak selamanya berkilau
Labels: Puisi
Ibu, Aku Sungguh Mencintaimu
Dapatkah seorang lelaki biasa begitu mencintai ibunya, hingga yang ia harapkan hanyalah sapaan "sudah pulang?" diteras depan, dan ketika banyak yang tertidur, ia siapkan sarapan pagi, bereskan tempat tidur, hangatkan air mandi kemudian membangunkannya dengan ucapan "selamat pagi"?
Dapatkah cinta tidak terbagi pada wanita lain, selain dia
Labels: Puisi
29 November 2006
Bagiku Hidup
Yang mengisi ruang hampa;
dengan segenap jiwa raga.
Adalah Mentari,
Yang menyapa setiap hati;
hingga kau pergi-enggan mati.
Adalah Rindu,
Yang bersemayam dalam lagu;
seperti lagu aku dan dirimu.
Adalah Janji,
Yang di ikrar sebelum bayi;
sampai kau tepati.
Adalah Tiada, dan memberiku nama
Adalah Ada, dan aku pun...
Labels: Puisi
dik
aku masih sendiri, ketika yang lain sudah bisa memaki.
aku masih mencari, ketika yang lain sudah menemukan.
aku masih sering nonton sendiri, ketika yang lain sudah bisa bernyanyi.
dik,
jika kau ada disini
kan kuceritakan seluruh gundah ini,
kan kuserakkan seluruh susah ini,
kan kuteriakkan seluruh kata serapah ini.
dik,
temani aku pada tiap hari-hari yang terus berputar bagai dejavu,
arahi aku pada jalan yang sedang kulalui, agar ku tak tersesat lebih jauh lagi,
terangi aku pada malam yang kadang membuatku tak melihat pagi.
dik,
satu mimpiku hanya jika kau bersedia menemani,
satu hatiku hanya jika kau bersedia berbagi,
satu rinduku kan tetap abadi di relung ini.
Labels: Puisi
Setan - Setan Keparat
saat nama-Mu terucap
musik-musik menghentak,
merentak;
banyak bentak diujung kelab;
lalu
lontar menghujat-Mu
bagai takbir;
kemudian rendap,
dan semuapun lelap.
Labels: Puisi
diantara...
diantara baca dan balas, rindumu
diantara tawa dan tangis, rinduku
diantara dia dan yang teratas, rindumu
diantara jalan dan susuran, rinduku
diantara tapak dan jejak, rindumu
diantara hari yang berlalu, rinduku
diantara malam yang berganti, rindumu
diantara mereka ada rindu kita
diantara pengemis tua, juga rindu kita
Labels: Puisi
Kamis hampir habis, kau mengiris hatiku, tes... tes... Hingga kumeringis...
Biar semua indera mendengar
Jika aku merindukan hadirmu.
Puteri, aku ingin terbang, dengan sayap atau tanpa sayap
Kau cukup katakan
Aku akan menunggu kedatanganmu, selalu.
Puteri, aku ingin berada diduniamu
Tidak peduli
Apakah itu nyata atau tiada.
Puteri, aku ingin menulis tubuhmu
Dengan pena bertangkai tulangku dan tulangmu
Dengan pena bertinta darahku dan darahmu.
Puteri, sedang apa kau kini?
Aku memanggil jiwamu
Kembalilah ketulang rusukku.
Puteri, akankah kita bertemu lagi
Nanti... di dunia mimpi sebelum pagi.
Labels: Puisi
Sedih yang Aneh
Rasa sedih berbaur
ya, ketika satu persatu
Akhirnya pergi, jadi... Apa arti waktu pagi kita
Aku ingin seperti bintang timur tak pernah berubah Meski masa 'tlah berlalu
Aku ingin melayang di angkasa dan membawa mimpiku
Melewati tidur indahnya semalam.
Labels: Puisi
rinduku rintik-rintik
di setapak paralon tua, selokan kereta
rinduku bisik-bisik
diantara lawakan suci kulihat dia
rinduku lentik-lentik
kuumbar senyum kulirik cinta
Kutaktahu bagaimana Engkau tawarkan mimpi,
wangi pagi sungguh memikat;
Kutaktahu kapankah nyata yang tahu diri,
akan mendekat dan kudekap;
Kutaktahu bagaimana Engkau bentangkan pikat,
ada sekat antara kita.
ini dendamku...
panas dan akan meluka
ketika kau sentuh
ini rinduku...
dingin dan hampa
ketika kau jauh
Labels: Puisi
24 November 2006
Rabu kelabu aku terpaku diatas bangku sambil menggerutu hingga... kau datang menjemputku
Beberapa pertapa terbuat dari aksara terikat didalamnya
Sudah dicoba memakai segala daya upaya, tetap saja sia-sia.
Tapi... Ada satu yang tidak ia ingat
Sesuatu...
Yang bisa menghancurkan batu... gunung sekalipun
Yang bisa membunuh radja-radja... sehebat apapun dia
Yang bisa memanggilmu... walaupun kau tidak setuju
Yang tidak pernah berhenti... apalagi kembali
Ya... Sesuatu... yang telah berlalu.
Labels: Puisi
Catatan disatu pagi yang sepi saat jam dinding mengoceh berhari-hari
Maukah kau membawaku pergi
Dari lemari besi yang nyengir sendiri.
Puteri, aku ingin kau maki
Ah... bodohnya kau masih sendiri
Meraba-raba mencari jati diri.
Puteri, ikhlas kah kau berada dalam mimpi
Mencoba meyakinkan, bahwa kau bisa kumiliki
Sekali lagi, Puteri
Aku ingin kau cintai
Seperti hati yang terbakar api.
Labels: Puisi
